Bulan Juli = Bulan Kelabu


Dua tahun terakhir ini, bulan juli serasa menjadi bulan kelabu buat saya. Bukan bermaksud bermellow2 ria, tapi dalam dua tahun terakhir ini saya sudah kehilangan 3 orang terdekat dalam hidup saya.

——–

23 Juli tahun 2007, pagi hari Senin sekitar pukul 9. Saya dikagetkan oleh sebuah SMS yang masuk ke hp saya, SMS dari seorang teman di Malang (kebetulan pada saat yang sama saya juga sedang di Malang), yang mengabarkan bahwasanya sahabat saya Eliseus Quinta Rumiarsa, telah gugur mendahului kami. Eliseus gugur karena mengalami kecelakaan dalam latihan terbang menggunakan pesawat OV-10 Bronco di Lanud Abdulrahman Saleh.Berita ini sungguh mengagetkan saya karena baru beberapa hari sebelumnya, tepatnya hari Kamis malam, saya baru saja bertemu dengannya dan pada saat itu tidak ada satu firasatpun yang menyiratkan bahwa itu adalah saat pertemuan terakhir saya dengannya.

Eliseus adalah seorang sahabat dimana saya telah cukup banyak menjalani perjalanan hidup saya dengannya. Kami berasal dari SMP yang sama, SMP 3 Malang, dan kami sama-sama melanjutkan studi ke SMA Taruna Nusantara Magelang. Lulus dari SMA, kami pun melanjutkan jalan hidup kami di Akademi Angkatan Udara – Yogyakarta, menjadi seorang Karbol, hingga akhirnya lulus tahun 2004. Di sini kami terpaksa harus berpisah jalan, karena almarhum menjadi seorang Penerbang, sementara saya bergabung ke dalam korps Elektronika. Sehingga, setidaknya saya sudah menjalani hidup bersama-sama dengan Eliseus selama kurang lebih 9 tahun.

Hari Selasa, 24 Juli 2007 kami mengantarkan almarhum ke tempat peristirahatannya yang terakhir di TMP Suropati – Malang. Tembakan salvo mengiringi jenazah almarhum bersatu kembali dengan bumi pertiwi, nyanyian lirih Hymne Taruna mengalun di bibir kami, Wirga Dripa 2004, mengantarkan kepergian sahabat dan saudara kami untuk menghadap Yang Maha Kuasa.

Selamat jalan Eliseus….

———

Rabu, 23 Juli tahun 2008. Saat itu saya berada di Malang, pada pagi harinya saya nyekar ke makam Eliseus, mengenang setahun kepergiannya. Malam hari, sekitar pukul 8, hp saya berbunyi menandakan ada SMS masuk ke hp saya. “Innalillahi wa innailaihi roji’un. Tolong diinfo ke yang lain saya baru dapat info rekan kita Panca meninggal karena kecelakaan di Bogot”. Tak percaya saya baca SMS itu, saya ulangi huruf demi huruf, kata demi kata. Beberapa detik berikutnya, rentetan SMS serupa membanjiri inbox hp saya. Satria Arsy Pancakusumah, teman selifting AAU saya telah meninggalkan kami untuk selama-lamanya.

Satria Arsy Pancakusumah, saya pertama kali mengenalnya pada saat menjalani tes seleksi Karbol AAU di Yogyakarta. Pada awal perkenalan, kami tidak begitu dekat, cuma sekedar mengenal wajah dan nama. Kebersamaan kami yang sebenarnya diawali saat kami menjalani masa-masa Chandradimuka di Magelang. Saya dan Panca ditempatkan dalam satu peleton yang sama, Peleton 1 kompi B Batalyon 1. Selama kurang lebih 3 bulan kami melewati berbagai latihan bersama-sama sebagai Calon Prajurit Taruna. Selanjutnya kami pun melanjutkan perjuangan di Akademi Angkatan Udara Yogyakarta hingga akhirnya dilantik menjadi Perwira Remaja TNI AU pada bulan Desember 2004. Setelah lulus, Panca bergabung dalam korps Teknik, sementara saya Elektronika. Namun, komunikasi kami tak berhenti sampai disitu. Kami masih sering berbalas sms, telepon dan juga melalui Friendster. Saat terakhir saya bertemu dengannya adalah pada pernikahan salah satu rekan selifting kami, Angki Pandu Rizki, di Cimahi. 4 hari sebelum kejadian.

Sedih rasanya karena pada saat itu saya tidak bisa mengantarkan kepergian Panca ke peristirahatan terakhirnya karena almarhum dimakamkan di Bogor. Hanya doa yang terpanjatkan semoga Panca mendapatkan tempat yang mulia di sisi Allah SWT. Amin.

Selamat jalan Panca…

——-

Sabtu, 7 Juni 2009. Sekitar pukul 7.30 pagi, dengan mata sedikit mengantuk karena baru bangun tidur, saya membaca SMS yang masuk ke hp saya, dari seorang adik alumni TN, Yangie, yang mengabarkan bahwasanya Braven Wiragupti Kewo, teman seangkatannya, TN15, telah mengalami kecelakaan dalam outbond yang diikutinya dan akan menjalani operasi pada pukul 08.00 pagi itu juga. Kaget, tak percaya hati saya membaca SMS itu. Pada awalnya saya berpikiran Braven mengalami kecelakaan motor, karena Braven adalah seorang pengendara motor sejati, kalau saya boleh mengatakannya demikian. Dengan motor Yamaha Scorpionya ( yang dia beri nama kesayangan Pio ), Braven telah melalui ribuan kilo, berkelana menjelajahi pulau jawa. Namun, setelah mencari-cari informasi lagi, saya mendapatkan kabar kondisi Braven yang lebih mengagetkan, Braven mengalami patah leher dan syaraf-syarafnya mulai terganggu karenanya.

Tak menunggu lama, saya langsung menuju ke salah satu rumah sakit di Bandung tempat Braven akan dioperasi, dan disana saya menjumpai orang tua Braven untuk pertama kalinya. Ayah dan Ibu Braven tampak sangat cemas dan terpukul menghadapi kenyataan yang ada. Sementara Braven sudah berada di dalam ruang operasi. Saat itu jam menunjukkan pukul 08.30. Menit-menit berlalu begitu lama, satu demi satu sahabat-sahabat Braven mulai berdatangan ke rumah sakit, Sita, Sovi, Eja, Dede, Yangi, Theo, Dona dan masih banyak lagi lainnya. Kami sama-sama kaget dengan berita ini. Waktu terasa berjalan sangat lambat, hingga akhirnya sekitar pukul 2 siang, Braven keluar dari ruang operasi. Dada serasa sesak, saat melihat Braven yang sangat aktif, ceria dan bersemangat, kini harus terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Selanjutnya Braven dirawat di ruang ICU.

Saya berkenalan dengan Braven pertama kali di bulan Agustus tahun 2008. Pada saat itu saya kebetulan datang dalam suatu rapat yang membahas tentang rencana Buka Bersama Ikastara Bandung. Selanjutnya saya mengenal Braven sebagai seorang adik yang sangat respek, hormat, aktif, bersemangat, senang bergaul dan memiliki kepedulian yang sangat tinggi. Salah satu kenangan yang berkesan bagi saya tentangnya adalah ketika pada suatu sore, saat saya akan lari sore di track Saraga, tiba-tiba Braven SMS dan menyampaikan bahwa dia akan ikut lari. Setelah tiba, ternyata Braven masih mengenakan pakaian kuliah karena dia baru saja dari kampus, dan ketika saya tanya kenapa tiba-tiba mau lari. Dia mengatakan, kasihan kalau saya lari sendirian, jadi dia bermaksud menemani. Jawaban yang terkesan sedikit asal, tapi hal itu menandakan betapa tinggi rasa kepedulian yang dimilikinya. Dan masih banyak lagi kenangan-kenangan saya tentangnya yang tak mampu saya uraikan satu persatu. Kenangan yang sangat berkesan, yang takkan terlupakan untuk selamanya.

Selama bulan Juni 2009, menjadi bulan yang mencampuradukkan pikiran dan perasaan saya. Di saat  itu saya harus mengejar target kelulusan studi saya, sementara pada saat yang sama pikiran saya pun tertuju pada perkembangan kondisi Braven di rumah sakit. Seminggu pasca operasi, Braven masih dirawat di Bandung. Selama itu, hampir tiap hari kami (saya dan sahabat2 Braven) bergantian menjenguknya di rumah sakit. Melihat perkembangannya sedikit demi sedikit yang sangat menyentuh perasaan, karena serasa tak tega melihatnya dalam kondisi tak berdaya.

Minggu kedua, Braven dipindahkan ke Jakarta untuk mendapatkan perawatan lanjutan. Menjadi sedikit sulit bagi kami yang di Bandung untuk memantau perkembangannya di Jakarta. Namun kami terus berusaha mencari waktu untuk menjenguknya walau tidak sesering saat di Bandung. Selama dirawat di Jakarta, beberapa kali Braven mengalami masa-masa kritis yang membuat kami super was-was. Hingga akhirnya, pada pagi hari Minggu, 5 Juli 2009, pukul 06.30, Braven menghembuskan nafas terakhirnya, dikelilingi oleh ayah ibunya, tante yang sangat menyayanginya (tt Pungki dan tt Titing), dan saya… Hari itu, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menemani seseorang menghadapi saat terakhirnya. Air mata tak henti-hentinya mengalir dari mata saya. Sore harinya Braven dimakamkan di Bogor, kota tempat tinggalnya, dengan diiringi air mata dari keluarganya, saudara-saudaranya, sahabat-sahabatnya, dan semua orang yang mengasihinya.

Selamat jalan Adikku Braven….

brave

——————-

4 thoughts on “Bulan Juli = Bulan Kelabu

  1. innalillahi…..
    turut berduka cita, mereka pasti orang hebat!!

    heu, bulan juli kemaren justru ane baru 17 taon, pas tanggal 5 juli. semoga mereka, pahlawan yang gugur, bisa diterima dengan tenang di alam sana…….

  2. Pingback: my other world :: Surat Yang Akan Kubacakan Untukmu 18 Tahun Dari Sekarang, B :: August :: 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s