Review : Inferno


Inferno, satu film terbaru yang diadaptasi dari novel Dan Brown yang berjudul sama, Inferno.  Kalau nggak salah, saya baca novel ini tahun 2013 an, hasil meminjam paksa dari saudara yang baru aja udah selesai baca duluan. Hehe… Mohon maklum, budget limit, tapi hobi baca banget.

infernointernational

Singkat kata, Inferno tetap memiliki tokoh sentral Robert Langdon (yang masih dipercayakan kepada aktor Tom Hanks), yang kali ini harus berjuang menyelamatkan umat manusia dari virus yang diciptakan oleh Bertrand Zoobrist ( Ben Foster ), seorang milyarder yang punya ambisi untuk mengendalikan populasi umat manusia.

Ceritanya, Langdon mendadak terbangun di sebuah rumah sakit di Firenze, Italia dengan luka serempetan tembakan di kepala menurut dokter Sienna (Felicity Jones) yang merawatnya. Belum juga Langdon pulih sepenuhnya, dia sudah diburu oleh seorang Polisi yang menembak membabi buta di rumah sakit. Dokter Sienna tanpa banyak berpikir langsung menolong Langdon kabur dan membawanya ke apartemennya. Dan cerita pun bergulir. Langdon menemukan tabung rahasia di kantong bajunya, yang ternyata berisi proyektor yang menampilkan “Map of Hell” nya Boticelli  yang merupakan penggambarannya atas Inferno ala Dante dari karyanya Divine Comedy. Karena Langdon menderita insomnia tentang bagaimana dan apa yang dikerjakannya di Firenze, mau tidak mau dirinya mengikuti satu satunya petunjuk yang ada pada dirinya saat itu, menerjemahkan teka teki yang tersembunyi di “Map of Hell” tersebut, cerca trova – cari dan temukan.

Selanjutnya, cerita pun bergulir. Banyak tokoh tokoh terkait yang bermunculan, WHO yang memiliki kepentingan dengan virus tersebut, yang dipimpin oleh Dr. Elizabeth (Sidse Babett Knudsen), The Consortium yang ternyata disewa oleh Zoobrist sendiri untuk mengamankan waktu peluncuran virus (tapi kemudian beralih pihak setelah menyadari bahaya dari misi yang dikerjakan) dipimpin oleh Provos (Irrfan Khan), dan juga disertai dengan twist twist yang tidak tertebak (kalau belum baca bukunya… hehe) yang sebenarnya cukup membuat film ini mengasyikkan untuk ditonton.

Film ini juga tetap menjadi obyek promosi wisata yang menarik, karena seperti dua film pendahulunya, kita disuguhkan dengan pemandangan dan obyek wisata yang luar biasa, mulai dari Firenze, Venesia, hingga ke Turki. Melihat megahnya Porta Romana, Hall of Five Hundred, Museo Casa, hingga ke Hagia Sophia dan Yerebatan Sarayi (Basilica Cistern). Bikin baper buat langsung meluncur kesana sendiri…. mimpi… haha…

Tapi… ada beberapa tapi….

Tapi yang utama adalah… ending di filmnya beda sama yang ada di novel. Sedikit spoiler, kalau di film, virusnya berhasil diamankan… Kalau di novel ? Hmm…. Baca sendiri ya… hehe… Biar membudayakan membaca :p. Buat yang belum menonton, Selamat menonton🙂

Nilai : 7 dari skala 10

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s