Percakapan di suatu sore

Suatu hari saya lagi iseng-iseng ikut kuis via twitter, tugasnya ngetwit foto-foto tempat iconic di Indonesia yang pernah dikunjungi. Tak disangka ada yang mereply twitter itu, seorang adik kelas SMA yang sedang mengejar impiannya di kota Bandung, sebut saja namanya Valid . Valid ini baru saja lulus kuliah dari salah satu univ ternama di Bandung (ga usah sebut nama keknya juga dah pada bisa nebak), mengambil kuliah tentang tata kota. Dan sekarang dirinya ingin pulang bertahun baru di Solo, kota dimana orang tuanya kini tinggal. Sekalian pulang, sekalian ngajakin ketemuan setelah sekian lama ndak ketemu.

Singkat kata, kami pun janjian ketemuan di tempat makanan favorit saya, sebut saja namanya Resto Oh La Vita . Karena masih dalam usaha ngurusin perut, saya minta ketemuan jam 5 (aturan DAAE : di atas jam 7 dilarang makan). Saya datang jam 5 lewat 5, dan Valid sudah datang menunggu di dalam (yang lebih tua ga kasih contoh yang baik). Setelah pesen beberapa makanan,  Breaded Dorry in Sicily Sauce, Chicken Snichtzel, Honey Mustard Salad with Tuna, Pizza BBQ and Sweet Corn ( gimana mo kurus ). Sambil makan, pembicaraan pun berlanjut.

Valid , yang usianya 8 tahun lebih muda dari saya, yang baru saja lulus kuliah, ternyata telah merintis masa depannya sendiri. Tak mau sibuk ngantri di wawancara kerja, kini Valid justru telah merekrut orang untuk bekerja sama dengannya, di bawah naungan Vresco Studio . Bekerja di bidang product and food photography, website designer, company profile dan olah desain, Vresco Studio , merupakan penjabaran dari bidang yang disenangi Valid , fotografi. Percaya atau tidak, untuk mengawali bisnisnya ini, Valid masih menggunakan kamera Nikon D5100, yang itungannya masih kategori untuk pemula. Tapi, sudah berhasil memberinya penghasilan yang cukup. Lihat saja foto-foto hasil jepretannya berikut..

20130424-211148

dsc_0300-copy

Dan sisa sore itu saya belajar bagaimana menjadikan hobi menjadi suatu usaha, dari anak muda yang penuh semangat mengejar impian tanpa peduli cerita kesuksesan semu dari rekan-rekannya. Sukses untuk Valid adalah bahagia hidup di dunia dan di akhirat kelak… Percakapan sore yang penuh inspirasi…

Jadi Dalang Wayang SBC (1)

Berawal dari sebuah perintah buat nyiapin penampilan dari kantor buat acara ultah satuan, akhirnya jadilah sebuah mahakarya (banggain diri sendiri dikit :p) yang merupakan kolaborasi dari musik, fashion show dan gerak (kalo ga bisa disebut nari), berjudul Opera Batik Solo. *genderang berbunyi*

Kisah ini diawali pada suatu hari yang cerah, dimana saya yang sedang mengendali kuda  mouse lagi klik kanan kiri atas bawah sambil pencet-pencet keyboard mengerjakan tugas kantor seperti biasa. Dan sebuah panggilan khusus yang berakhir dengan sebuah perintah tegas berbunyi “Siapkan penampilan untuk perayaan HUT di Bandung bulan Oktober nanti. Tampilkan yang khas Solo”. Khas Solo ??  Pastilah itu Serabi Notosuman, Bebek Pak Slamet, Timlo dan Selat Solo (pikirannya makanan mulu…. :p ). Seni Khas Solo ? Yang terbayang di benak saya waktu itu ya …. nggak ada…. *lemparin diri ke jurang*. Betapa apatisnya saya, 3 tahun di Solo yang diinget cuma soal makanan mulu… Soal  beberapa hal lain yang mencirikan Solo banget, seperti kesenian dan hal-hal lainnya malah ga tau. Untungnya, perintah itu dikasih penjelasan tambahan yang berbunyi “Coba kamu lihat Solo Batik Carnival, lihat prospeknya untuk kita tampilkan”. Pas sekali !!! Waktu itu kurang dari seminggu akan diadakannya acara Solo Batik Carnival VI. Tak banyak kata, saya langsung rencanain buat foto semua kostum SBC pas hari H nya. Dan ternyata … itu lumayan melelahkan saudara-saudara… Saya standby di TKP start mulai pukul 13.00, sementara acaranya sendiri baru start pukul 15.30. Semua dilaksanakan demi sebuah keinginan, harus bisa dapet foto semua kostumnya… Yang pada akhirnya memang tidak berhasil -___-“. Tapi bersyukurnya saya masih dapat banyak foto bagus. Seperti yang saya pernah twitkan di @tuitedith  berikut ini :

Selanjutnya adalah bagaimana mengemas kostum-kostum SBC yang sudah bagus ini menjadi suatu penampilan yang lebih megah dan menarik. Bagaimana kisah selanjutnya ? Tunggu di part 2 ! *sudah mau apel siang soalnya :D*

Resensi : The Jacatra Secret

Teori Konspirasi dan Pengungkapan Sejarah yang terlupakan (atau tersembunyikan) semakin  ramai jadi bahan cerita novel semenjak novel The Da Vinci Code karangan Dan Brown muncul di jagad sastra pernovelan dunia (menurut saya…. 😀 ). Bahkan saking menggebraknya, banyak yang berusaha mementahkan teori-teori dan data-data sejarah yang diungkap oleh Dan Brown pada novel tersebut. Sebut saja beberapa di antaranya : Cracking The Da Vinci Code. Demikian pula di Indonesia, yang pernah terjajah oleh Belanda, dimana di beberapa kota besar Indonesia banyak berdiri bangunan-bangunan tua peninggalan penjajah. Adakah misteri di balik bangunan-bangunan tersebut ? Menurut penulisnya, yakni Rizki Ridyasmara , YA !! Dan itulah yang dikupasnya dalam buku The Jacatra Secret : Misteri Simbol Satanic di Jakarta.

IMAG1119a

Continue reading

Review : The Conjuring

Nonton Film Horror, buat saya sih sebenernya cuma buat sekedar asik-asikan, gaya-gayaan, siapa yang tahan ga nutup mata selama nonton (ngeceknya pas habis nonton, apal semua ga adegan2 di film) atau… siapa yang tahan ga teriak di sepanjang film. Bukan sok atau kenapa… cuma selama ini film horror baik Indonesia maupun luar negeri rata-rata ya cuma sekedar ngaget-ngagetin aja.. seremnya ga dapet. Hampir sebagian besar dari film horror yang saya tonton selama ini, sukses saya lewati dengan aman. Tapi ada juga beberapa yang bikin saya merinding, kaget n kebayang2 adegan2nya. Beberapa di antaranya : Paranormal Activity 3, Pocong 2, Tusuk Jelangkung. Selebihnya…. gitu2 aja… (sombong). Nah, sepertinya sekarang saya harus nambah satu judul film lagi yang masuk kategori : “Bikin Serem”, yaitu The Conjuring.

Continue reading