Dua tahun di Gorontalo

Dua tahun sudah saya menjejakkan kaki di Gorontalo, di tanah Hulondalo kalau orang sini bilang. Dua tahun, 24 bulan, tapi tetap belum cukup waktu bagi saya untuk banyak menjelajah aneka ragam tempat wisata dan budaya yang begitu banyaknya di wilayah Gorontalo ini. Jangankan di satu provinsi, di satu kabupaten Gorontalo Utara tempat saya tinggal saja sepertinya masih banyak tempat yang belum saya jelajahi. Mohon maklum, keterbatasan waktu (karena tetap harus mengutamakan tugas) dan ketiadaan transportasi yang memadai (belum sanggup beli mobil, hehe) membuat saya harus memendam keinginan untuk menjelajahi jengkal demi jengkal tanah Gorontalo.

Tapi di antara itu banyak alasan halangan itu, izinkan saya berbagi sedikit dari yang amat sedikit yg sudah saya alami dan rasakan selama dua tahun di tanah Gorontalo ini.

1. Sambal dabu-dabu, sambal pidis ala Gorontalo. Hari demi hari, saya melihat masyarakat di sekitar saya tinggal sangat amat senang sekali sama yang namanya ikan bakar, sebut saja ikan Goropa, ikan batu, ikan tengiri bahkan terakhir kemarin saya sempat menikmati Baby Tuna bakar. Mungkin karena memang dekat dengan TPI Kwandang, jadi akses untuk mendapatkan ikan segar sangat mudah. Dan yang lebih khas lagi adalah sambal dabu dabu sebagai pelengkap masakan ikan bakar ini. Sambal yang terdiri dari potongan tomat, cabai, dan minyal kelapa ini rasanya begitu menyatu jika dipadukan dengan ikan bakar. Awalnya saya nggak hobi sama jenis sambal ini, tapi lama kelamaan jadi nagih juga. hehe…

2. Pia Gorontalo.  Sudah dua kali saya berkesempatan kembali ke tanah jawa untuk bertemu keluarga. Dan tentu tiap pulang, saya membawa oleh oleh dari Gorontalo untuk diberikan ke sanak saudara, di antara sekian macam oleh oleh Gorontalo, rasa rasanya saya bisa bilang yang paling khas (dan sesuai budget… hehe) adalah Pia Gorontalo. Ada beberapa merk Pia yang terkenal di Gorontalo, yaitu Pia Saronde, Pia Cafesera, Pia Ekspress dan Pia Wijayakusuma (ini bukan iklan ya,…). Biasanya isiannya ada coklat, keju, coklat keju, kacang, dan sekarang juga ada varian rasa durian. Hemat, cermat, bersahaja… eh maksudnya sederhana dan nikmat rasanya.

3. Karlota. Nggak lengkap rasanya bergaul di Gorontalo kalau tidak disambi bakar bakar…. Selain bakar ikan, ada juga Bakarlota…. Istilah lokal untuk ngerumpi, ngebahas berbagai macam isu terkini dan teraktual. Ditambah dengan gaya bahasa serta gesture yang asik, berjam jam pun tak terasa jika topik yang dibahas sangat menarik. Siapa yang punya banyak bahan cerita, bakal jadi pusat perhatian.

4. Pulau Saronde.  Pulau saronde adalah salah satu ikon wisata pertama yang dikenal di wilayah Gorontalo. Sebuah pulau mungil di pesisir utara wilayah Kabupaten Gorontalo Utara yang terkenal dengan pantai pasir putih dan keelokan bawah lautnya. Biasanya saya kemari beramai ramai berombongan dengan menyewa satu perahu, begitu sampai di pulau, grup perempuan turun ke pulau, sementara grup laki laki menerjang samudra untuk memancing ikan… hehe… Hasil dari memancing kemudian dibawa ke pulau Saronde untuk dibakar dan dimakan bersama, sambil bakarlota… :p

Mungkin 4 hal itu yang sangat berkesan selama 2 tahun saya di Gorontalo, semoga makin banyak waktu dan kesempatan bagi saya untuk menjelajah lebih leluasa wilayah Gorontalo yang indah dan khas ini. Can’t wait what can i see next 🙂

Review : Inferno

Inferno, satu film terbaru yang diadaptasi dari novel Dan Brown yang berjudul sama, Inferno.  Kalau nggak salah, saya baca novel ini tahun 2013 an, hasil meminjam paksa dari saudara yang baru aja udah selesai baca duluan. Hehe… Mohon maklum, budget limit, tapi hobi baca banget.

infernointernational

Singkat kata, Inferno tetap memiliki tokoh sentral Robert Langdon (yang masih dipercayakan kepada aktor Tom Hanks), yang kali ini harus berjuang menyelamatkan umat manusia dari virus yang diciptakan oleh Bertrand Zoobrist ( Ben Foster ), seorang milyarder yang punya ambisi untuk mengendalikan populasi umat manusia.

Ceritanya, Langdon mendadak terbangun di sebuah rumah sakit di Firenze, Italia dengan luka serempetan tembakan di kepala menurut dokter Sienna (Felicity Jones) yang merawatnya. Belum juga Langdon pulih sepenuhnya, dia sudah diburu oleh seorang Polisi yang menembak membabi buta di rumah sakit. Dokter Sienna tanpa banyak berpikir langsung menolong Langdon kabur dan membawanya ke apartemennya. Dan cerita pun bergulir. Langdon menemukan tabung rahasia di kantong bajunya, yang ternyata berisi proyektor yang menampilkan “Map of Hell” nya Boticelli  yang merupakan penggambarannya atas Inferno ala Dante dari karyanya Divine Comedy. Karena Langdon menderita insomnia tentang bagaimana dan apa yang dikerjakannya di Firenze, mau tidak mau dirinya mengikuti satu satunya petunjuk yang ada pada dirinya saat itu, menerjemahkan teka teki yang tersembunyi di “Map of Hell” tersebut, cerca trova – cari dan temukan. Continue reading

Olala…. Pantai Ulele

Nyaris 1,5 tahun tinggal di Gorontalo, bisa dibilang saya masih belum mengeksplore wilayah Gorontalo dengan maksimal. Di satu sisi, terkendala dengan kegiatan kantor yang cukup memerlukan waktu dan perhatian, di sisi lain kendala dengan kendaraan, mohon maklum.. hehe…

Jadi sewaktu diajak ikut untuk pergi ke Ulele, rasanya sungguh Olala…. Padahal dalam hati bertanya, mau ngapain disana. Hehe… Tidak dinyana ternyata pesonanya sungguh menakjubkan, jadi nyesel belum punya kualifikasi scuba diving. *Padahal renang aja masih gelagepan*.

Taman Laut Olele itu letaknya di Desa Olele Kecamatan Kabila Bone Kabupaten Bone Bolango, jaraknya kurang lebih 20 Km kalau ditempuh dari pusat Kota Gorontalo, alias 90-an kilo kalo dari Kwandang, tempat  saya tinggal. Kalau dari kota Gorontalo, Olele bisa dijangkau dengan menggunakan kendaraan darat dan bakal melewati jalanan berliku di pinggiran bukit dan sekaligus laut. Pemandangannya kontras sekali, di sisi kiri tebing curam, di sisi kanan, laut biru yang luas. Buat yang gampang mabuk, sepertinya harus ekstra sabar kalau mau ke Olele… hehe… *termasuk saya sih*.

Sesampainya di Pantai Olele, awalnya rasa heran, mau ngapain disini… wilayah pasirnya sempit, banyak karang, dan sekilas mirip kampung nelayan biasa. Ternyata pantai Olele baru gerbangnya saja dari Taman Laut Olele. Selanjutnya, kita bisa menggunakan kapal kapal wisata dari masyarakat lokal yang telah dimodifikasi bentuknya untuk menuju lokasi Taman Laut Olele yang sesungguhnya. Harganya terjangkau kok, harga sewa perahu itu sudah termasuk peralatan snorkling, foto sepuasnya di bawah laut sama ongkos duduk di perahu. *ya iyalah*

Sampai di lokasi, pakai peralatan snorkling, dan byur…. nyemplung laut. Langsung mingkem liat pemandangan bawah laut Olele yang bener bener bikin takjub. Keren…. Banyak ikan berseliweran plus terumbu karang yang bertebaran. Pusing pusing mabuk di kendaraan langsung ilang begitu liat ke dalam laut.. Sayang waktu itu saya sepertinya pas lagi banyak ombak, jadi agak ngeri juga rasanya.

Bener – bener speechless….. Saking speechlessnya, mending liat sendiri foto-fotonya ya, daripada saya kebanyakan cerita, hehe…

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Hidup adalah perjuangan

Hidup adalah perjuangan..

Entah kita sadari atau tidak, hari demi hari dalam hidup kita pada intinya adalah perjuangan. Yang membedakan adalah, tahukah kita apa yang sedang kita perjuangkan ?

Orang orang yang bekerja, akan berkata, bahwa hari hari dalam hidupnya adalah perjuangan mencari sesuap nasi, untuk dirinya, keluarganya ataupun orang orang yang dikasihinya…

Orang orang yang tak dapat bekerja pun, akan berkata, bahwa hari hari dalam hidupnya adalah perjuangan bertahan hidup hingga esok hari, karena dia tidak tahu dapatkah ia sukses bertahan hidup jika tidak ada makanan yang ia dapatkan hari ini..

Kita berjuang, untuk siapa, demi apa, akan kemana… itulah yang akan memberi makna hari hari dalam hidup kita. Kalaupun kita hanya menjalani hari selayaknya ritual bangun tidur dan sampai tidur lagi, tanpa mampu memaknai apa isi perjuangan kita hari ini, sayang sungguh sayang…. Kita kehilangan makna hidup….

Buatlah suatu tujuan, yang layak diperjuangkan… Maka hidup anda akan berarti…

Potel

Potel.. alias Pot Hotel…

Kosakata gak penting.. haha… iseng aja bikin kosakata baru, setelah beberapa kali liat pot taneman di depan rumah jadi tempat tidur seekor kucing (maaf, saya ga kenal namanya siapa), yang datangnya entah dari mana. Alhasil terkadang penghuni asli pot tersebut (sebut saja Mr. Plant), harus mengalah digeser kesana kemari sama si kucing yang ngulet ngulet cari posisi paling PW buat tidur.

Dan demi toleransi antar makhluk hidup, terpaksa saya meminta Mr. Plant utk bersabar dan menerima kunjungan si kucing. Dengan iming iming saya ga akan lupa kasih minum Mr. Plant tiap pagi dan sore, serta kasih snack khusus tiap minggu. 🙂

12107228_10153598472333903_333410983929459139_n

 

Mr. Plant terpaksa mengalah ke pinggir, didusel dusel sama si kucing yg meringkuk nyaman

26 September 2015 – One Year

Satu tahun sudah migrasi ke Kwandang, Gorontalo Utara

Banyak sekali cerita dan pengalaman yang tertoreh disini, mulai dari adaptasi budaya dan adat istiadat setempat yang sedikit banyak berbeda dengan yang pernah saya rasakan di Jawa, kondisi alam yang cukup ekstrim (dah 5 bulan nggak hujan sama sekali euy 😥 … ) , sama pengalaman di tempat dinas yang baru dan banyak lagi lainnya.

satu tahun, 12 bulan, 365 hari… dan sudah 7 bulan tidak menjejakkan kaki ke jawa… miss my family so much :’)